PORTALBANTEN – Di tengah suasana haru dan penuh harapan di Pendopo Bupati Pandeglang, Selasa dini hari, Wakil Gubernur Banten A Dimyati Natakusumah melepas ratusan calon jamaah haji Kloter 33 JKG asal Kabupaten Pandeglang. Dalam arahannya, Dimyati menegaskan bahwa ibadah haji bukan hanya soal fisik dan logistik, tapi yang paling utama adalah latihan jiwa dan pengendalian diri.
"Orang punya uang belum tentu bisa berhaji, punya jabatan pun belum tentu diundang Allah," ujar Dimyati dengan nada penuh penghayatan. "Karena itu, ketika kesempatan ini datang, maksimalkan untuk beribadah. Jangan sia-siakan."
Dimyati tak hanya memberi semangat, tapi juga mengingatkan tentang berbagai ujian mental yang akan dihadapi di Tanah Suci. Mulai dari godaan toko oleh-oleh di sepanjang jalan, kesabaran saat dilangkahi atau disenggol saat tawaf, hingga antrian yang panjang di maktab. Semuanya adalah bagian dari proses tazkiyatun nafs—penyucian jiwa yang menjadi inti dari haji.
"Ini bukan sekadar perjalanan ke luar negeri, ini latihan spiritual tertinggi. Jangan lepaskan wudhu, jaga sholat lima waktu, dan kalau bisa, perbanyak ke Masjidil Haram," tambahnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Pandeglang, Lukman Hakim, menyebutkan bahwa Kloter 33 berisi 393 jamaah, terdiri dari 156 laki-laki dan 227 perempuan. Jamaah termuda berusia 19 tahun, sementara yang tertua mencapai 99 tahun. "Kami sudah siapkan petugas untuk melayani. Yang penting jaga kekompakan dan kesehatan selama di Tanah Suci," katanya.
Bupati Pandeglang, Dewi Setiani, turut melepas para jamaah dan memberi pesan tentang pentingnya keteguhan hati. "Ibadah haji itu perjalanan yang penuh berkah. Tapi harus dijalani dengan niat lurus, ikhlas, dan sabar," ujarnya.
Dengan segala bekal doa dan pesan moral yang diberikan, ratusan jamaah asal Pandeglang itu kini bersiap menjalani perjalanan spiritual mereka. Haji bukan sekadar ritual, melainkan latihan totalitas iman dan jiwa yang akan menguji ketulusan serta kesabaran dalam setiap langkah.*