PORTAL BANTEN - Bogor tak sekadar dikenal sebagai kota hujan. Dari zaman Pakuan Pajajaran hingga era digital hari ini, identitas Bogor terus tumbuh dari budaya, sejarah, hingga kekayaan alamnya. Banyak yang kita tahu: Kebun Raya Bogor, Istana Presiden, Institut Pertanian Bogor, hingga kuliner ikonik seperti talas atau asinan. Tapi pernahkah kita merenungi keberadaan satu flora khas yang mulai terpinggirkan, meski sejatinya pantas dibanggakan? Namanya kapulasan, si "rambutan babat" yang eksotis dan menyimpan potensi besar untuk menjadikan Bogor makin tersohor, tanpa harus tekor.

Kapulasan Bukan Rambutan Biasa
Kapulasan (Nephelium ramboutan-ake) merupakan tumbuhan asli kawasan Asia Tenggara yang masih satu keluarga dengan rambutan (Nephelium lappaceum), namun memiliki ciri yang unik dan sangat khas. Berkulit tebal, berduri pendek, tumpul dan lebih keras, buahnya bisa berwarna hijau, merah muda, merah tua hingga hitam. Di Bogor, ditemukan banyak variasi rasa dan bentuk. Bahkan ada kapulasan yang besar, nglotok, dan manis sekali—kualitas unggul yang langka dan sulit ditemukan di daerah lain.
Bukan tanpa alasan jika para ahli botani seperti Dr. Nina Ratna Djuita dari IPB menyebut bahwa Bogor merupakan pusat keragaman kapulasan. Variasi terbanyak, kualitas terbaik, dan genetik paling menjanjikan banyak ditemukan di kawasan ini. Sayangnya, pamor kapulasan masih kalah dengan saudaranya: rambutan Rapiah, Binjai, atau Garuda.
Eksotis, Elit, dan Bernilai Tinggi
Kapulasan bukan hanya buah yang layak dikonsumsi. Ia juga merupakan simbol kekayaan botani dan bagian dari warisan lanskap tropis Bogor. Dulu, banyak ditemukan di pekarangan rumah tua, sepanjang jalur kereta Bogor-Jakarta, hingga halaman rumah bangsawan Belanda. Kini, jumlahnya menurun drastis, digeser oleh pembangunan yang tidak ramah biodiversitas.
Padahal, selain buahnya yang bisa dinikmati segar atau diolah, bijinya pun bisa disangrai dan dimakan seperti kacang mede, bahkan menghasilkan minyak nabati. Kayunya dapat digunakan sebagai bahan rumah tangga, dan daunnya berkhasiat untuk mengobati eksim. Akarnya pun bisa dimanfaatkan sebagai obat herbal. Sebuah tanaman multifungsi yang sayangnya mulai dilupakan.
Menjaga Plasma Nutfah Lokal
Di tengah gempuran buah impor dan tren hortikultura modern, upaya pelestarian kapulasan perlu dimasukkan dalam agenda strategis pemerintah daerah. Kapulasan Bogor adalah plasma nutfah asli yang bernilai ekologis, ekonomis, dan estetis. Penanaman kembali di taman kota, halaman sekolah, jalur hijau, atau kawasan wisata bisa menjadi langkah konkret dalam membangkitkan kembali kejayaan flora lokal ini.