Jakarta – Hujan deras yang mengguyur Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak 25 November 2025 memang memicu banjir dan longsor. Namun di balik air bah dan tanah runtuh itu, tersimpan kisah yang jauh lebih kelam: tragedi kemanusiaan yang lahir dari akumulasi kejahatan ekologis, difasilitasi negara, dan ditutup rapat dengan narasi “bencana alam”.
Hingga 17 Januari 2026, catatan resmi menyebut 1.190 warga tewas, 141 orang masih hilang, dan lebih dari 131 ribu jiwa terkatung-katung di pengungsian selama lebih dari 40 hari. Lebih dari 175 ribu rumah hancur, jalur transportasi terputus, dan denyut ekonomi rakyat lumpuh. Sumatera berubah menjadi medan kehancuran. Namun negara memilih jalan pintas: menyebutnya sekadar musibah, seolah ribuan nyawa itu jatuh begitu saja dari langit.
Ekologi yang Dikorbankan
Tragedi ini bukan datang tiba-tiba. Ia lahir dari penghancuran bentang alam selama puluhan tahun oleh industri ekstraktif yang diberi karpet merah konsesi. Laporan JATAM menegaskan hampir tak ada wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang bebas dari tambang, konsesi kehutanan, dan perkebunan sawit raksasa. Hulu sungai, lereng bukit, hingga kawasan rawan bencana dijadikan ladang eksploitasi.
Deforestasi masif, pengerukan bukit, dan penyempitan sungai dilegalkan atas nama investasi. Aparat menutup mata terhadap praktik ilegal. Ketika hujan ekstrem datang, alam yang sudah dirusak tak lagi mampu menahan air. Banjir dan longsor pun berubah menjadi pembantaian diam-diam terhadap warga.
Jejak Oligarki
Laporan JATAM bertajuk “Katastrofe Sumatera: Jejak Oligarki di Hulu, DAS, dan Zona Rawan Bencana” (18/1/2026) membongkar keterkaitan antara wilayah terdampak dengan korporasi besar yang terhubung dengan elite kekuasaan. Narasi teknokratis tentang “anomali iklim” diproduksi berulang-ulang untuk menutupi fakta bahwa negara membuka keran eksploitasi tanpa batas.
Inilah depolitisasi bencana: warga dipaksa menerima kematian sebagai takdir, bukan sebagai akibat keputusan politik yang mengorbankan keselamatan publik demi akumulasi modal.
Raksasa di Hulu, Warga di Hilir