PORTAL BANTEN - Batu ginjal, kristal mineral keras yang terbentuk di ginjal, merupakan kondisi yang menyakitkan dan dapat menimbulkan komplikasi serius jika tidak segera ditangani. Penyebabnya beragam, mulai dari pola makan hingga kondisi medis tertentu. Berikut pengalaman tiga pasien yang menggambarkan gejala awal dan perjalanan pengobatan mereka.

Carollyn Gehrke, 46 tahun, merasakan nyeri punggung dan perut samping saat liburan Natal 2019 di Amerika Serikat.

"Saya merasakan sakit yang sangat tidak nyaman. Saya tidak menghadiri pesta Natal atau Tahun Baru. Hanya tinggal di rumah dengan selimut penghangat," terang Carollyn.

Setelah pemeriksaan di Mayo Clinic Health System di La Crosse, ia didiagnosis batu ginjal kalsium oksalat berukuran 1 cm dan menjalani prosedur laser litotripsi.

Taylor, gadis kecil berusia 6 tahun dari Philadelphia, AS, mengalami pengalaman berbeda. Ia ketakutan melihat darah di urinenya di sekolah.

Awalnya didiagnosis infeksi saluran kemih, namun gejala berlanjut. Ia mengalami muntah, dehidrasi, kelelahan, dan sakit perut. Setelah serangkaian pemeriksaan, terungkap batu ginjal 6 mm yang tersangkut di ureternya. Taylor menjalani prosedur pemasangan stent dan laser untuk memecah batu ginjal tersebut.

"Pasca operasi, Taylor tidak pernah merasakan sakit dan rutin kontrol kesehatan setiap enam bulan sekali. Selain itu, ia juga mulai mengonsumsi banyak air putih dan menghindari makanan yang mengandung kadang garam yang tinggi," kata ibu Taylor.

Claire Monti, remaja 15 tahun dari Ohio, AS, merasakan nyeri perut bawah yang tajam, seperti ditusuk-tusuk. Ia dilarikan ke UGD Cincinnati Children's Hospital Medical Center.

Pemeriksaan menunjukkan batu ginjal tersangkut di saluran menuju kandung kemih. Sekitar satu minggu kemudian, batu ginjal tersebut pecah dan keluar bersama stent.