PORTAL BANTEN - Pemerintah Indonesia terus berupaya memperkuat sumber daya manusia (SDM) melalui dua program prioritas, yaitu Sekolah Rakyat dan Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam upaya ini, Oktasari Sabil, seorang pegiat sosial dan pemerhati pendidikan-gizi, berperan aktif dalam mendorong sinergi antara kedua program tersebut.
Oktasari menekankan bahwa Sekolah Rakyat dan MBG adalah fondasi penting untuk menciptakan generasi muda yang sehat dan berdaya saing. Ia berpendapat bahwa pendidikan tidak hanya harus fokus pada aspek akademis, tetapi juga memperhatikan kesehatan dan gizi siswa agar proses belajar dapat berlangsung dengan optimal.
“Kita ingin anak-anak di Sekolah Rakyat tidak hanya pintar secara akademis, tapi juga kuat dan sehat. Gizi yang baik adalah pondasi pendidikan yang berkualitas,” kata Oktasari, dalam dialog di Ezy TV.
Ia menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat berfungsi sebagai lembaga pendidikan berbasis masyarakat yang menekankan pembentukan karakter, keterampilan hidup, dan nilai kebangsaan. Dalam konteks ini, Makan Bergizi Gratis berperan krusial dengan menyediakan dukungan nutrisi bagi siswa, terutama mereka yang tinggal di asrama.
Oktasari juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara Kementerian Sosial (Kemensos) dan Badan Gizi Nasional (BGN) dalam pelaksanaan kedua program ini. Menurutnya, kedua lembaga harus bekerja sama dari tahap perencanaan hingga evaluasi untuk mencapai tujuan peningkatan kualitas SDM secara maksimal.
“Sejak awal kami memastikan standar gizi terpenuhi dan sistem pengawasan berjalan baik. Sinergi ini penting agar anak-anak mendapat asupan yang benar, sehat, dan aman,” jelasnya.
Lebih jauh, Oktasari menekankan perlunya membangun kesadaran publik tentang pentingnya gizi dalam pendidikan. Ia berharap masyarakat dapat berpartisipasi dalam mendukung keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis, baik melalui partisipasi komunitas maupun pengawasan di tingkat lokal.
Dengan latar belakangnya di bidang sosial dan pendidikan, Oktasari melihat sinergi antara Sekolah Rakyat dan MBG sebagai gerakan nasional untuk menciptakan generasi unggul Indonesia. Ia optimis bahwa langkah ini akan menjadi titik awal menuju Generasi Emas 2045.
“Pendidikan dan gizi adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Kalau kita ingin membangun SDM unggul, maka anak-anak harus diberi kesempatan untuk belajar dengan perut kenyang dan tubuh yang sehat,” tutupnya.