JAKARTA – Pemerintah menegaskan bahwa fluktuasi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.672 per dolar AS baru-baru ini bukan merupakan indikasi krisis ekonomi domestik. Kondisi tersebut sepenuhnya dipicu oleh dinamika dan tekanan eksternal global.

Menteri Keuangan Purbaya menyatakan bahwa fundamental ekonomi nasional beserta Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) saat ini masih berada dalam posisi yang aman dan solid.

"Kondisi ekonomi Indonesia dan APBN masih aman," ujar Purbaya pada Selasa (19/5).

Menurut Purbaya, tekanan terhadap rupiah dan IHSG terjadi seiring dengan menguatnya indeks dolar AS, lonjakan harga minyak dunia, serta meningkatnya tensi geopolitik global. Situasi ini memicu para investor global untuk mengambil langkah menghindari risiko (risk-off) dengan mengalihkan aset mereka ke instrumen aman (safe haven), seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat. Dampaknya, aliran modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Selain faktor geopolitik, sentimen pasar domestik juga sempat tertekan oleh keputusan indeks global MSCI yang menghapus beberapa emiten asal Indonesia dari daftar mereka. Langkah ini memicu aksi jual jangka pendek oleh investor di pasar saham tanah air.

Untuk meredam volatilitas tersebut, pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) terus bersinergi melakukan langkah-langkah stabilisasi guna menjaga kepercayaan pasar.

"Pemerintah masuk ke pasar obligasi untuk menjaga stabilitas rupiah," tambah Purbaya.

Selain intervensi pemerintah di pasar obligasi untuk menjaga keseimbangan likuiditas dan menarik kembali modal asing, Bank Indonesia juga memperkuat intervensinya di pasar valuta asing (valas). Langkah taktis ini diambil guna meminimalkan fluktuasi nilai tukar rupiah yang terlalu tajam.

Di sisi lain, Menkeu Purbaya juga mengimbau masyarakat agar tidak bersikap reaktif atau melakukan tindakan spekulatif di tengah penguatan dolar AS. Ia menyayangkan adanya narasi berlebihan di media sosial, termasuk ajakan "borong dolar" (panic buying), yang justru berpotensi memperburuk volatilitas nilai tukar rupiah.