PORTALBANTEN – Perkembangan teknologi yang begitu cepat dan dinamis dalam beberapa tahun terakhir membuat kaum muda di Indonesia semakin akrab dengan dunia digital. Dari smartphone terbaru, wearable tech, hingga tren kecerdasan buatan, semua menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda masa kini.

Pengamat sosial Ari Sumarto Taslim menyampaikan pandangannya terhadap fenomena ini. Dalam analisanya, Ari menilai bahwa ketertarikan kaum muda terhadap teknologi bukan sekadar soal kebutuhan komunikasi, tapi sudah merambah ke ranah identitas diri, eksistensi sosial, bahkan status ekonomi.

"Generasi muda saat ini tidak hanya melihat teknologi sebagai alat bantu, tetapi sebagai bagian dari ekspresi diri mereka. Gadget terbaru bisa menjadi simbol gaya hidup, kecanggihan, hingga representasi kelas sosial," kata Ari Sumarto Taslim dalam sebuah diskusi daring, Minggu (6/4/2025).

Ari menekankan bahwa situasi ini punya dua sisi. Di satu sisi, kemelekatan kaum muda dengan teknologi menunjukkan betapa cepatnya adaptasi mereka terhadap era digital, yang merupakan modal besar dalam pembangunan sumber daya manusia unggul. Namun di sisi lain, ia juga memberi peringatan agar jangan sampai keterikatan tersebut mengarah pada ketergantungan atau bahkan alienasi sosial.

"Jika tidak disertai literasi digital yang memadai, ketertarikan pada teknologi bisa menimbulkan dampak negatif, seperti konsumtivisme, perasaan rendah diri karena membandingkan diri di media sosial, dan menurunnya interaksi sosial secara langsung," ujarnya.

Ari juga menyoroti tren terbaru di kalangan remaja yang rela menabung berbulan-bulan, bahkan berutang, demi bisa memiliki gadget edisi terbaru. Menurutnya, ini adalah sinyal bahwa aspek nilai dan prioritas hidup perlu terus diajarkan kepada generasi muda.

"Orang tua dan pendidik harus hadir, bukan untuk melarang teknologi, tapi untuk mengarahkan. Teknologi itu netral—yang membentuk dampaknya adalah cara kita menggunakannya," lanjutnya.

Sebagai solusi, Ari menyarankan pentingnya pendidikan karakter dan literasi digital sejak dini. Ia juga mendorong komunitas-komunitas anak muda untuk memanfaatkan teknologi untuk kegiatan produktif seperti kewirausahaan digital, konten edukatif, hingga kampanye sosial.

"Teknologi adalah alat yang luar biasa. Tapi generasi muda kita harus menjadi pengendali, bukan yang dikendalikan," tutup Ari Sumarto Taslim.*