PORTALBANTEN - Pada awal April 2025, Bank Dunia mengemukakan bahwa 60,3 persen penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan. Dalam laporannya melalui Macro Proverty Outlook, jumlah penduduk Indonesia adalah 285,1 juta. Sehingga angka garis kemiskinan 60,3 persen tersebut setara dengan 171,8 juta jiwa.
Dalam pengukurannya, Bank Dunia menggunakan ambang batas garis kemiskinan negara berpendapatan menengah ke atas. Nilai tolok ukurnya adalah pengeluaran US$6,85 per hari. Posisi Indonesia menempati urutan persentase penduduk termiskin kedua di Asia Tenggara. Tepatnya setelah Laos di urutan pertama dengan penduduk miskin sebesar 68,9 persen.
Sebagai tambahan informasi, Bank Dunia tidak memasukkan data kemiskinan di Kamboja dan Myanmar. Angka kemiskinan Indonesia jauh lebih tinggi dari Malaysia 1,3 persen, Thailand 7,1 pesen, dan Vietnam sebesar 18,2 persen.
Informasi mengenai tingginya angka kemiskinan di Indonesia sebetulnya bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan Indonesia per September 2024 bahwa 82,28 persen (230,88 juta jiwa) masyarakat hidup dalam kategori kelompok di bawah kelas menengah. Adapun rinciannya dikategorikan dalam kelompok menuju kelas menengah 49,29 persen (138,31 juta jiwa), kelompok rentan miskin 24,42 persen (68,51 juta jiwa), dan kelompok miskin 8,57 persen (24,06 juta jiwa).
Sementara itu, penduduk kelas menengah ke atas di Indonesia hanya sebanyak 17,72 persen. Mereka terbagi atas kelompok kelas menengah 17,25 persen (48,41 juta jiwa), dan kelompok kelas atas 0,46 persen (1,29 juta jiwa).
Indikator Ekonomi Indonesia Tidak Meyakinkan
Mengutip rilis data perekonomian terbaru, data ekonomi Indonesia Triwulan I 2025 hanya mampu menghadirkan angka pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 4,87 persen secara tahunan (yoy). Kondisi yang cukup mengkhawatirkan, karena menunjukkan perlambatan dibandingkan capaian Triwulan IV 2024 (5,02 persen yoy) maupun periode yang sama tahun lalu Triwulan I 2024 (5,11 persen yoy).
Bahkan, jika ditelisik lebih detail lagi, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi yang sesungguhnya merupakan kunci kapasitas produktif masa depan pertumbuhannya menjadi hanya 2,12 persen. Capaian ini terjun bebas dari 5,03 persen yoy pada Triwulan IV 2024.
Mencermati kondisi ekonomi Indonesia terkini yang masih jauh dari pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dipatok Presiden Prabowo, maka detik ini masih belum pantas jikalau kita berandai-andai bahwa kelompok menuju kelas menengah akan berhasil naik kelas menjadi kelompok kelas menengah.