PORTALBANTEN -- Dalam sebuah acara yang menggugah kesadaran, preview film Suamiku, Lukaku menjadi pemicu diskusi mendalam mengenai kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang sering kali dianggap sepele. Tema yang diangkat adalah, "KDRT di Sekitar Kita, Apakah Kita Sadar?" dan dari pemutaran film ini, satu pesan tegas disampaikan: hentikan normalisasi KDRT dalam segala bentuknya.
Viva Westi, sutradara film tersebut, menekankan bahwa proses kreatif film ini melibatkan banyak perempuan. "Penggambaran KDRT di film ini cukup lengkap. Dan memang, memotong siklus KDRT itu sangat sulit," kata Viva.
Ia menyoroti empat bentuk KDRT yang diangkat dalam film, yaitu penelantaran ekonomi, kekerasan verbal, kekerasan fisik, dan pemerkosaan dalam pernikahan.
Film ini tidak hanya menampilkan realitas pahit KDRT, tetapi juga memberikan edukasi kepada perempuan tentang langkah-langkah yang bisa diambil jika mereka mengalami kekerasan. Viva menekankan pentingnya menghindari narasi berbahaya seperti "sabar saja" atau "nanti karma membalas" yang justru memperpanjang siklus kekerasan.
Ayu Azhari, salah satu pemeran dan aktivis yang terlibat dalam lahirnya UU Anti-KDRT, menegaskan bahwa masyarakat harus menghentikan pembenaran terhadap perilaku kekerasan domestik.
"Kita tidak boleh menormalisasikan KDRT. Anak-anak sering meniru apa yang mereka lihat di rumah. Karena itu kita perlu memberikan awareness kepada masyarakat," tegas Ayu.
Dalam sesi diskusi, Siti Mazumah, Ketua Pembina WCC Puantara, menjelaskan berbagai jenis KDRT dan hak-hak korban yang harus dilindungi oleh negara. Ia menyoroti bahwa stigma masih menjadi tantangan terbesar, di mana banyak perempuan korban justru disalahkan dan merasa terjebak dalam siklus kekerasan.
Diskusi ini dihadiri oleh berbagai komunitas, termasuk Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI) dan Komunitas Notaris Indonesia Berkebaya (KNIB). Sharad Sharan, sutradara dan produser film, menyatakan bahwa film ini terinspirasi dari kisah nyata yang terjadi di berbagai belahan dunia.
"Saya berharap film ini membawa perubahan. Satu hal yang spesial, semua yang terlibat dalam film ini adalah perempuan," ujarnya.