JAKARTA – Program Food Estate kembali menjadi sorotan publik menyusul munculnya narasi di media sosial yang meragukan efektivitas proyek strategis nasional tersebut. Namun, data di lapangan menunjukkan adanya capaian produksi yang signifikan, khususnya di wilayah Kapuas, Kalimantan Tengah.

Berdasarkan data realisasi terbaru, kawasan Food Estate di Kapuas telah melaksanakan panen padi di atas lahan seluas kurang lebih 9.720 hektare. Lahan yang sebelumnya dikategorikan tidak produktif tersebut kini mulai menunjukkan siklus produksi yang stabil, menandakan program telah memasuki fase produksi setelah tahap pembukaan lahan.

Produktivitas di sejumlah titik tercatat mencapai rata-rata 5,2 ton per hektare. Angka ini bahkan berpotensi meningkat hingga melampaui 6 ton per hektare jika didukung dengan pengelolaan optimal dan sistem budidaya yang lebih baik. Sementara itu, untuk varietas padi lokal, hasil panen berada di kisaran 3 hingga 4 ton per hektare—sebuah angka yang dinilai wajar untuk tahap awal pengembangan lahan yang sebelumnya terbengkalai selama bertahun-tahun.

Ketua Sentra Usaha Tani dan Agribisnis (SUTA) Nusantara, Dadung Hari Setyo, menegaskan bahwa Food Estate merupakan investasi jangka panjang yang tidak bisa dinilai secara instan. Menurutnya, proses transformasi lahan menjadi area produktif membutuhkan waktu dan tahapan yang berkesinambungan, mulai dari infrastruktur hingga peningkatan kapasitas petani.

“Food Estate ini bukan program yang hasilnya bisa dilihat dalam hitungan bulan. Ini investasi jangka panjang untuk memastikan ketersediaan pangan kita ke depan,” ujar Dadung dalam keterangannya, Senin (4/5/2026).

Dadung menambahkan bahwa aktivitas pertanian di kawasan tersebut, mulai dari pengolahan tanah hingga masa panen, membuktikan bahwa program ini berjalan sesuai siklus agribisnis dan bukan sekadar kegiatan seremonial. Ia menekankan pentingnya dukungan berbagai pihak agar program ini terus berkembang melalui pendampingan teknologi.

“Kami melihat di lapangan sudah ada panen dan peningkatan produktivitas. Ini bukti bahwa programnya berjalan dan tidak bisa disebut tanpa hasil. Yang dibutuhkan sekarang adalah konsistensi dan penguatan di lapangan agar Food Estate bisa menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional,” pungkasnya.

Perdebatan di ruang publik mengenai Food Estate dinilai sering kali muncul akibat informasi yang tidak utuh. Meskipun masih memerlukan berbagai penyempurnaan, data lapangan menunjukkan adanya output nyata yang berkontribusi pada penguatan ketahanan pangan nasional. Ke depan, keberlanjutan program ini akan sangat ditentukan oleh konsistensi pengelolaan dan evaluasi berbasis data yang transparan.