JAKARTA – Jalannya Aksi Unjuk Rasa (AUR) mahasiswa di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, pada Jumat (12/6/2026) berlangsung terbuka dengan pengawalan ketat dari aparat keamanan. Kendati sempat beredar narasi di media sosial mengenai adanya tindakan represif dan pembatasan pers, fakta di lapangan menunjukkan aktivitas jurnalistik berjalan bebas dan hak menyampaikan pendapat tetap terjamin.

Sejumlah pengamat menilai tudingan pembungkaman media sulit dibuktikan. Sepanjang aksi berlangsung, seluruh rangkaian kegiatan—mulai dari persiapan, penyampaian tuntutan, hingga kritik terhadap pemerintah—disiarkan secara luas oleh berbagai media nasional, baik melalui televisi, portal berita daring, maupun platform media sosial.

Kondisi ini mengonfirmasi bahwa ruang demokrasi dan kebebasan berekspresi tetap berjalan kondusif, sementara aparat keamanan menjalankan tugasnya untuk menjaga ketertiban umum di pusat ibu kota.

Peliputan Media Nasional Berjalan Terbuka

Sejak sebelum aksi dimulai, berbagai media nasional telah aktif memberitakan rencana demonstrasi di kawasan Bundaran HI. Informasi mengenai titik kumpul, tuntutan mahasiswa, rekayasa lalu lintas, hingga kesiapan petugas keamanan tersaji secara transparan kepada publik.

Kebebasan ini terlihat dari banyaknya media yang melakukan siaran langsung (live report) dari lokasi unjuk rasa secara real-time. Kritik tajam dari mahasiswa dan dinamika di lapangan dapat diakses masyarakat tanpa hambatan. Hal ini mematahkan opini di media sosial yang menyebut adanya pembatasan terhadap kerja-kerja jurnalistik.

Pengamanan Berlapis di Bundaran HI

Sebagai salah satu pusat urat nadi ekonomi, bisnis, dan transportasi di Jakarta, kawasan Bundaran HI memerlukan perhatian khusus. Untuk mengantisipasi kemacetan parah dan potensi gangguan ketertiban umum, aparat menerapkan sistem pengamanan berlapis.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi, menjelaskan bahwa ribuan personel gabungan disiagakan demi memastikan aksi berjalan aman dan tertib.