JAKARTA – Narasi lama mengenai dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, kembali mencuat di media sosial. Kali ini, isu tersebut muncul dengan pola baru yang mencoba mengaitkan narasi tersebut dengan Presiden RI saat ini, Prabowo Subianto.

Konten provokatif berupa video dan poster tanpa bukti kredibel beredar luas dengan klaim yang bombastis. Pola penyebarannya serupa dengan isu yang pernah viral pada 2022, yakni memanipulasi potongan pernyataan individu yang kemudian dikemas ulang dengan tambahan teks untuk mengarahkan opini publik.

Klarifikasi Resmi Keaslian Ijazah
Terkait isu ini, sejumlah lembaga resmi sebenarnya telah memberikan klarifikasi tegas. Universitas Gadjah Mada (UGM) telah menyatakan secara resmi bahwa Joko Widodo merupakan alumnus sah dari Fakultas Kehutanan.

Selain itu, aparat penegak hukum juga telah melakukan penelusuran mendalam. Hasilnya menunjukkan bahwa dokumen ijazah tersebut autentik dan tidak ditemukan unsur pidana. Secara hukum, tuduhan pemalsuan ijazah tersebut tidak terbukti.

Munculnya Framing Politik Baru
Hal yang menjadi sorotan dalam gelombang disinformasi kali ini adalah upaya menyeret nama Presiden Prabowo Subianto. Narasi yang beredar membangun persepsi seolah-olah Prabowo mengetahui atau melindungi isu tersebut.

Namun, hingga saat ini tidak ditemukan bukti kredibel maupun pernyataan resmi yang mendukung klaim tersebut. Sejumlah lembaga pemeriksa fakta dan media nasional telah mengategorikan konten-konten viral tersebut sebagai informasi bohong atau hoaks.

Bahaya Manipulasi Narasi dan Literasi Digital
Fenomena ini menunjukkan bagaimana strategi framing politik bekerja untuk membentuk persepsi publik. Banyak konten yang beredar tidak mencerminkan isi video aslinya, melainkan hasil penambahan narasi sepihak yang menyesatkan.

Praktik menghubungkan isu personal masa lalu ke pemerintahan saat ini tanpa dasar fakta merupakan pola umum disinformasi. Strategi ini bertujuan menciptakan persepsi negatif di ruang publik, terutama di tengah arus informasi media sosial yang bergerak cepat tanpa filter.

Pentingnya Verifikasi Informasi
Menanggapi maraknya disinformasi ini, masyarakat diimbau untuk lebih kritis dan selektif dalam menerima konten digital. Beberapa langkah verifikasi yang dapat dilakukan antara lain:
1. Memeriksa kredibilitas sumber informasi.
2. Membandingkan informasi dengan klarifikasi resmi dari lembaga terkait.
3. Tidak langsung menyebarkan konten viral sebelum memastikan kebenarannya.