PORTAL BANTEN — Ketika modernisasi dan globalisasi terus mendorong masyarakat untuk bergerak cepat dan rasional, sebagian warga di Karawang memilih jalan sebaliknya: memperlambat langkah, menyelam ke dalam diri, dan kembali pada warisan spiritual leluhur. Salah satunya melalui ritual Mandi Kembang yang digelar di Kecamatan Teh Jambe pada Sabtu Kliwon, 19 Juli 1997.
Ritual ini dipimpin oleh seorang tokoh kasepuhan bernama Aki Dokam Sukma Jaya Durian (57), sosok yang dikenal luas di lingkungan spiritual Sunda karena komitmennya menjaga kemurnian ajaran batiniah warisan leluhur. Diselenggarakan di sebuah padepokan yang jauh dari hiruk-pikuk kota, ratusan orang dari berbagai penjuru mulai dari Cirebon, Pandeglang, hingga Purwakarta datang dengan niat yang sama: menata ulang kehidupan melalui jalan spiritual.
Menurut liputan media lokal SUNDA POST edisi 2256, ritual ini telah menjadi semacam ziarah batin bagi banyak peserta. Mereka percaya bahwa dalam keheningan air yang ditaburi tujuh rupa bunga, tersimpan kekuatan untuk menjernihkan jiwa, menolak bala, dan membuka gerbang kebijaksanaan hidup.
Ritual sebagai Ruang Refleksi
Berbeda dengan anggapan bahwa praktik spiritual semacam ini adalah bagian dari takhayul, Aki Dokam menegaskan bahwa Mandi Kembang bukan sarana meminta hasil instan. Ia menyebutnya sebagai bentuk ikhtiar batiniah usaha untuk menyelaraskan diri dengan semesta.
“Sim kuring mah teu ngajangjikeun nanaon. Ieu mah usaha pikeun neangan katengtreman batin. Gusti anu netepkeun jalanana,” ujar Aki Dokam dalam wawancaranya bersama SUNDA POST.
Ritual dimulai dengan doa bersama, dilanjutkan dengan sesi mandi bunga dalam kolam yang telah didoakan. Air tersebut dipercaya telah mengandung getaran positif yang membantu mensterilkan energi negatif dalam diri seseorang.
Antara Warisan dan Resistensi Budaya
Tradisi ini bukan hanya praktik spiritual semata, tetapi juga simbol dari resistensi budaya. Di tengah arus komersialisasi spiritual, Aki Dokam tetap menolak membuka jasa ramalan atau tarif konsultasi. Ia hanya menerima mereka yang benar-benar ingin menemukan arah hidup lewat jalur spiritual.