PORTAL BANTEN - Tuduhan demensia terhadap Presiden Prabowo Subianto kembali ramai diperbincangkan di media sosial.
Pernyataan tersebut dilontarkan Direktur LBH Medan, Irvan Saputra, yang menilai Presiden Prabowo tidak konsisten dalam pernyataannya terkait penanganan bencana di Sumatra serta kesalahan ucap “Selamat Tahun Baru 2021” saat kunjungan kerja di Sumatra Utara.
Namun alih-alih menguatkan tudingan tersebut, berbagai literatur medis dan kajian ilmiah justru mematahkan narasi itu.
Bahkan, sejumlah riset menunjukkan sikap sinis berlebihan yang kerap dipertontonkan para haters berkorelasi dengan peningkatan risiko demensia dini.
Demensia Bukan Sekadar Salah Ucap
Demensia merupakan gangguan serius pada fungsi otak yang disebabkan oleh kerusakan sel saraf, terutama pada area yang mengatur daya ingat, bahasa, dan kemampuan berpikir.
Kondisi ini tidak dapat disimpulkan hanya dari kesalahan ucap sesaat atau perbedaan pernyataan yang muncul dalam konteks berbeda.
Literatur medis menjelaskan bahwa demensia umumnya berkembang secara progresif, disertai penurunan fungsi kognitif yang menetap. Presiden Prabowo, yang dikenal memiliki aktivitas fisik tinggi, rutinitas kerja padat, serta keterlibatan intens dalam pengambilan keputusan strategis negara, justru jauh dari ciri klinis tersebut.
Gaya hidup aktif, disiplin fisik, serta keterlibatan mental yang konsisten merupakan faktor protektif terhadap gangguan kognitif. Hal ini bertolak belakang dengan gaya hidup pasif dan minim aktivitas, yang oleh kalangan medis disebut berkontribusi pada penurunan fungsi otak.