PORTALBANTEN — Dalam sebuah momen bersejarah, Rahmah El Yunusiyah diakui sebagai salah satu dari sepuluh tokoh yang dianugerahi gelar pahlawan nasional. Fauziah Fauzan El Muhammady, yang mewakili keluarga, menyampaikan rasa syukur yang mendalam kepada pemerintah atas penghargaan ini.
"Kita ucapkan terima kasih kepada pemerintah Indonesia, khususnya kepada Bapak (Presiden RI) Prabowo Subianto yang telah memberikan anugerah ini,” kata Fauziah, Senin (10/11), setelah penganugerahan berlangsung di Istana Negara, Jakarta.
Fauziah menambahkan bahwa gelar pahlawan ini merupakan bentuk penghormatan tertinggi dari negara terhadap jasa-jasa luar biasa para tokoh dalam memperjuangkan kemajuan bangsa. Rahmah El Yunusiyah dikenal sebagai sosok yang gigih dalam memperjuangkan pendidikan bagi perempuan.
"Semua santri menyambut dengan rasa syukur. Artinya, ada pengakuan atas perjuangan Bunda Rahmah. Yang tak hanya sebagai tokoh pendidikan, tapi juga tokoh perjuangan kemerdekaan,” ungkap Fauziah, yang kini memimpin Perguruan Diniyah Puteri Padang Panjang, Sumatra Barat.
Perguruan Diniyah Puteri, yang didirikan oleh Rahmah pada 1 November 1923, merupakan pondok pesantren modern khusus perempuan. Lembaga ini juga berperan penting dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia di wilayah Sumatra Barat.
Fauziah juga menceritakan tentang Rasuna Said, murid pertama Rahmah El Yunusiyah di Perguruan Diniyah Puteri, yang telah lebih dulu dinobatkan sebagai pahlawan nasional.
"Jadi, murid beliau sudah lebih dahulu mendapat pengakuan sebagai pahlawan nasional. Sekarang gurunya diakui sebagai pahlawan nasional. Alhamdulillah, terima kasih,” katanya.
Selain mendirikan Perguruan Diniyah Puteri, Rahmah juga aktif dalam mendirikan Perserikatan Guru-Guru Putri Islam di Bukittinggi dan terlibat dalam pergerakan menentang penjajahan Belanda. Ia juga mendirikan Taman Bacaan Khuttub Khannah untuk meningkatkan literasi di kalangan perempuan, serta menjadi anggota pengurus Serikat Kaum Ibu Sumatera (GKIS) Padang Panjang dan ikut mendirikan Partai Masyumi di Minangkabau.*